13 Juli 2007

tampil: antara latihan dan panggung

Demi meramaikan ulang tahun kantor tempat kami bekerja, kami dari grup penggemar karawitan diberi kesempatan menunjukkan kekompakan dengan mempersembahkan beberapa gendhing sebagai pembuka pagelaran wayang golek dan wayang orang. Alkisah latihan demi latihan pun dilakukan sebagai persiapan, kurang lebih seperti proyek rara jonggrang. Gendhing yang kami tampilkan memiliki tingkat kesulitan medium ke advance, sedangkan kami adalah penabuh pemula dengan tingkat kehadiran yang lebih banyak mangkir daripada hadir di latihan ditambah total waktu latihan sebelum pementasan kurang lebih 1,5 bulan. Seminggu sebelum pementasan latihan ditingkatkan menjadi 2 kali seminggu dengan formasi yang masih tambal sulam, dalam artian disini kosong disana kebanyakan dan vokal pria belum ada halah kompleks :( .Satu hari sebelum pementasan seluruh lagu dapat dimainkan dengan baik dengan tambahan pengisi vokal pria yang tak lain adalah pelatih kami :D ,bahkan 2 jam sebelum tampil kami masih dapat melakukan gladi resik dengan hampir sempurna, hebat euyyy.
Tibalah saat tampil, meski pelatih sudah memperingatkan bahwa gamelan yang kita gunakan berbeda dengan gamelan yang biasa kita mainkan, kaget dan panik tetap membuat kami jengah dengan instrumen asing ini. Label notasi yang kami bawa pun belum bisa menetramkan hati menghadapi instrumen baru ini, terutama karena ada di atas panggung yang disaksikan para musisi karawitan anggota dari pengiring dalang. Lagu pertama, mars institusi dapat dimainkan dengan baik meski ada cacat di awal dan akhir gendhing (terutama saya yang terlewat beberapa pukulan). Pada lagu kedua saya semakin banyak membuat kesalahan, bukan, saya tidak sedang demam panggung, ini bukan pengalaman pertama tampil di muka umum, tapi instrumen baru ini lebih besar ukurannya dan letaknya membelakangi kendang dan bonang, saya terbiasa mendengarkan kendang dan bonang sebagai patokan bagi pukulan demung saya. Disamping ukurannya yang berbeda, tidak tersedianya sound system yang memadai hingga kami dapat saling mensinkronkan pukulan instrumen kami, ditambah lagi panggung ini terletak di luar ruangan (outdoor) sehingga tanpa tata suara yang bagus kami (saya kali :D) saling kebingungan membaca partitur agar sinkron dengan pukulan instrumen lagi.
Akhirnya, bukan saya yang menentukan lagu yang kami bawakan indah atau tidak untuk dinikmati, yang jelas malam itu saya merasa gagal sebagai seorang pengrawit (musisi karawitan), segitunya saya keukeuh bahwa kegagalan ini karena masalah teknis. Kemasygulan saya terobati dengan banyaknya jajanan ala kampung di sekitar panggung wayang malam itu. Coba sebutkan di daerah mana di tengah Jakarta ini ada nasi liwet, thengkleng dan hik asli solo yang memang sengaja digotong dari tempat asalnya :D

ps: bulan Agustus gerombolan kami akan manggung lagi, doakan ya semoga saya tidak gagal lagi

7 komentar:

edratna mengatakan...

Hehehe...yang penting "the show must go on"

Saya punya pengalaman lucu, pas ada acara di kantor, para deputy GM ke atas bikin kejutan, bikin acara guyonan, tapi didasarkan atas situasi sehari-hari dikantor itu. Dan semua bebas berkreasi. Pas saat tampil....wahh semua pada ngakak soalnya ada bapak2 yang jadi cewek, seru deh pokoknya...malah kata BoD..."Wahh mestinya kita diajak ikut ke pentas ya"...hehehe

venus mengatakan...

waaaahhh...hebat! negeri ini pasti bangga punya anak muda hebat seperti kal... *terdiam ditampar iway*

Evi mengatakan...

grogi...? gak ditonton aku sih....:P

sory, ga jadi nonton muaceet...

iway mengatakan...

to bu eny:
lha itu sudah pengalaman semua, kita-kita kebanyakan bercandanya :)

to mbak V:
**mbok-mbok yang aneh**

to jeng evi:
wahhh rugi ga dateng :D

Bangsari mengatakan...

aku dadi penasara. boleh liat liat pas latihan ngga mas? btw, sampeyan YM atau GTnya apa?

iway mengatakan...

to mas ipul:
silakan dateng hari rabu pulang kantor, di gedung tipikal lantai M (diatas atm), emailku w dot riadi @ gmail dot com

langit mengatakan...

jenenge dudu pengkrawit,ne rak salah warenggono,ne rak salah lo mas :D