25 Juli 2007

cermin

wah ipdn beraksi lagi, karena korban orang dalam sudah tidak populer maka sekarang giliran orang luar kampus jadi korban. Heran ya, hanya karena masalah sepele bisa tega memukuli orang sampai mati. Jangan-jangan otaknya cuma berisi bagaimana menyalurkan hasrat menganiaya orang lain sepuasnya. Mereka tidak sadar, semua yang ada dari ujung rambut hingga ujung kaki dibiayai oleh rakyat, kebutuhan makan dan tempat tinggal mereka dibayar dengan keringat rakyat, hingga pendidikan tinggi yang mereka nikmati adalah sumbangan sukarela penduduk negeri ini. Mungkin benda bernama cermin sudah lama punah disana.
Jadi kepikiran, ini bukan yang pertama ada sekumpulan orang yang menjadi sebab kematian pihak lain. Berapa banyak anda pernah dengar atau lihat ada maling dikeroyok hingga mati, bahkan dibakar hidup-hidup, atau tempo hari tentang serombongan tentara yang salah sasaran memuntahkan peluru dari senapannya, atau anak yang tega membuat orang tuanya menderita lahir dan batin. Mungkin ini gambaran mental kita sekarang ini. Kita terlalu mudah 'menggunakan' tangan kita, begitu mudah menvonis orang meski kita hanya tahu sedikit permasalahan yang terjadi. Kebiadaban kita di ajang kerusuhan akbar beberapa waktu lalu belum menjadi pelajaran bagi pendewasaan mental kita, bahwa kekerasan bukan penyelesaian. Ipdn mungkin cermin bagi kondisi mental kita sebagai orang yang sekian lama hidup dalam berbagai tekanan.
Akhirnya saya pun menaikkan banner karya mas anto ini sebagai pengingat bahwa kita pernah melihat satu hal yang sekarang kita lihat. Bahwa nantinya ipdn akan dibubarkan, berganti nama, berubah fungsi menjadi terminal, mall hingga lokalisasi saya rasa banyak pihak yang lebih berkompeten. Sebagai salah satu 'donatur' saya cuma bisa memantau dari jauh, apa lagi yang akan terjadi di tempat itu?

3 komentar:

Anang mengatakan...

IPDN Lagi IPDN Lagi

osinaga mengatakan...

IPDN memang moooooiii :) hidup IPDN :)

langit mengatakan...

iyoo bener mas,mending nggo tempat pelacuran ae, iso nyenengke wong liyo...*ngakak jahanam*
wakakaka...