15 Februari 2008

kerelaan

Pagi-pagi tadi ada teman di gedung seberang mengirim email, isinya curhat dan minta tolong. Teman satu bagian teman saya ini kehilangan satu barang entah siapa yang mengambil. Barang ini secara nominal tidak begitu tinggi harganya namun memiliki nilai history yang penting bagi pemiliknya karena barang ini merupakan pemberian dari seseorang yang teramat penting pastinya. Sentimentil? :D

Dulu (dan mungkin sekarang) saya begitu juga. Laci, lemari, lipatan-lipatan buku dan semua tempat ada saja saya menyimpan barang-barang yang menurut saya memiliki sejarah. Entah karena proses mendapatkannya, pemberinya atau profil barang yang menurut saya unik semisal slip gaji pertama, notes pemberian dari si A si B hingga benda-benda boleh nemu di jalan yang menurut saya unik. Orang jawa bilang nyusuh, hampir semua barang yang ditemui dibawa pulang dan disimpan. Hingga tak terasa laci semakin penuh, lemari melengkung keberatan beban dan tiba saatnya bersih-bersih. Saya tak segan-segan untuk membuang atau menghancurkan barang-barang yang sudah saya bawa pulang dan kumpulkan itu. Lha? kalau tahu akan dihancurkan akhirnya, kenapa harus dikumpulkan?

Apakah saya termasuk golongan sentimentil temporer :D ?
Mengenang sejarah perjalanan hidup memang penting, termasuk memasukkan unsur-unsur dalam sejarah itu, namun menyiksa diri dengan tidak merelakan sesuatu yang telah pergi?
Mungkin kepergiannya menuju arah yang lebih baik, baik bagi kita maupun bagi sesuatu tersebut, meski kadang prosesnya ternyata "tidak baik".

Merelakan kepergian menurut saya adalah proses pembelajaran tentang alasan kehadiran kita, bahwa kita datang tidak dengan 'sesuatu' dan pergi seharusnya juga tidak terlibat lagi dengan berbagai 'sesuatu'

12 komentar:

Anang mengatakan...

kadang kita merasa sesuatu yang sangat berarti sekali saat hal itu telah meninggalkan kita.... ikhlas adalah jalan terbaik... setuju sekali sama kalimat terakhir....

iman brotoseno mengatakan...

nggak semuanya disimpan khan..kita khan happy selected items collector

Hedi mengatakan...

Bener...direlain aja, setelah itu belajar supaya ga gampang kehilangan lagi.

endang mengatakan...

itu kali ya yg org tua2 bilang, jangan terlalu lengket sama sesuatu, supaya gak kecewa nantinya.......

ebeSS mengatakan...

dalam pengembangan diri, menyusun strategi, tiap orang sangat tergantung pada ingatan sejarahnya

evi mengatakan...

yeah...kadang segala sesuatu yg mempunyai kenangan memang susah untuk dilenyapkan begitu aja.....

kw mengatakan...

iya relakan saja. banyak hal baru yang lebih menarik hi hi hi.. saya tak perna nyimpen barang sebiji pun. (kecuali buku, pernah aku mau jual saja, eh teman saya mengingatkan, jangan dulu).

buat apa ya, aku tak suka mengenang siii
oh ya garengpung itu kayaknya dah punah.. wong aku juga dah ga pernah dengar ko, dulu pun hi hi hi

isnuansa mengatakan...

nyusuh itu kayaknya emang hobi banyak orang. saking cintanya sama benda-benda yang kita miliki..

edratna mengatakan...

Kalau lagi beres-beres, kadang bukannya membereskan, tapi malah diam saat menemukan benda-benda tertentu yang menimbulkan sentimentil. Akibatnya acara bersih-bersih nya berjalan lambat....

Tapi benar, kita harus merelakan dan membuang benda-benda lama yang tak digunakan lagi......

-Fitri Mohan- mengatakan...

meskipun aku ndak suka ngumpulin macem-macem barang antik atau printilan-printilan nggak jelas, tapi kalau ada nilai sejarah yang bener-bener tinggi, ya biasanya sih aku simpen baik-baik atau malah aku pigura. :D

Bangsari mengatakan...

ra popo mas, yen dikumpulke iso dijual lagi. hehehe

iway mengatakan...

to mas nabi:
:D

to mas iman:
nah itu dia, saya blum bisa selected

to hedi:
sip

to mbak endang:
hooh mbak, biar ga terlalu sakit :D

to om ebes:
iya bos, sejarah bisa merefleksikan akan jadi kayak apa kita nanti

to evi:
contone jeng??

to mas kw:
di kampung mbah saya masih banyak, tapi kalo kemarau aja

to nunik:
hobi kok nyusuh

to bu enny:
iya bu, menuh-menuhin rumah, mending juga tempatnya gede :D

to mbak fm:
pigura? wah ide baru tuh

to bang ipul:
iya, dikiloin ya :D