02 Juni 2008

Penyakit Patologis

Geger genjik udan kirik belakangan ini semakin membuat alis ini naik. Ontran-ontran kok ya ada - ada saja dan bukannya berkurang malah tambah berpasang-pasang.
Sepertinya kita sedang dilanda penyakit patologis, penyakit karena hal-hal merugikan yang datang dari sifat diri sendiri.
  • Instan, kita maunya yang instan-instan, tak mau report tak mau usaha, kalo bisa cepat kenapa harus lama. Padahal tuhan sudah memberikan fisik dan akal yang lebih dari cukup jikalau mau berusaha dengan lebih giat, karena tuhan menginginkan kita perduli kepada proses dan biarlah dia yang menentukan hasil akhirnya.
  • Matinya nurani, jika semua hukum tidak bisa menunjukkan suatu hal itu benar atau salah, maka tanyalah nurani. Nurani ada di setiap orang dan nurani tidak pernah bohong. Nurani pencopet pasti mengatakan bahwa dia tidak ingin anaknya menjadi copet, pun dengan nurani pelacur yang tidak ingin jejaknya diikuti anak-anaknya. Dan lihatkan, nurani tidak pernah mati, kitalah yang mematikan peran vital mereka dalam mendampingi hidup kita.
  • Pengetahuan tanpa karakter, berapa banyak sarjana yang dihasilkan perguruan tinggi di negara ini, dan lihatlah berapa dari sarjana-sarjana itu hanya menjadi pesakitan, penghuni sel-sel penjara dan pembual bermulut besar di media-media. Sistem pendidikan kita yang membuat betapa para orang-orang berilmu tinggi ini bisa berjalan nyaris tanpa karakter, moral dan etika ketika terjun ke masyarakatnya.
  • Perdagangan tanpa moralitas, pengurusan segala hal yang berhubungan dengan birokrat menjadi ladang subur nan hijau bagi semua penyelewengan. Perniagaan sudah tidak menghiraukan etika dengan kolega dan lingkungan.
  • Agama tanpa pengorbanan, kenapa ketika ada permintaan sumbangan bagi orang yang kurang mampu kita memilih yang bernominal terkecil? Ritual yang disyaratkan semua agama, salah satu tujuannya adalah keyakinan itu memerlukan pengorbanan, sebesar apa keyakinan kita pada agama yang kita yakini setidaknya bisa diukur dari sebesar apa pengorbanan yang dengan ikhlas kita berikan dalam bentuk apapun.
  • Politik tanpa prinsip, sejauh mana politisi kita bisa mengemban amanat yang diberikan konstituennya, sejauh mana mereka telah mengemban nilai-nilai yang diyakini dan dipegang teguh oleh rakyatnya.
Dan yang terbaik dari semuanya adalah mulai memperbaiki diri sendiri.

cat : disarikan dari khutbah jum'at oleh ustadz wijayanto di masjid baitul ihsan tanggal 30 mei 2008, kurang lebih mohon dimaafkan.


9 komentar:

Epat mengatakan...

ngeblog tanpa....?
tanpa apa yah? halah....

Evi mengatakan...

loh, jumat kmrn ustad wijayanto ya...? itu favoritku :)
makanya bpk2 disini pada bilang khotbahnya bagus....
tapi aku ya ga nanya lebih lanjut, soalnya lagi ketiban file. dasar!!

Anang mengatakan...

penuh pencerahan. sukron way... alhamdulillah.

e-ndrew mengatakan...

3/92 -> infakkanlah sebagian harta yg kamu cintai.. klo di dompet ada duit 10rb ama 100rb, mana tuh yg lebih dicintai..:)

endang mengatakan...

menyedihkan ya Way.....

iway mengatakan...

to epat:
tanpa Blog? mana mungkin :D

to evi:
ketahuan yaa, jumatan di BDN

to anang:
sama-sama, semoga bermanfaat

to indro:
TINA tentunya :D

to mbak endang:
ya mbak, dan mestinya jadi perhatian kita bersama :)

torasham mengatakan...

wah, lumayan dapat penyegaran rohani dari mampir di blog ini...
trims mas..

edratna mengatakan...

Geger genjik...udah heboh...ditambah udan kirik...wahh pasti tambah ga karuwan. Untung hari Minggu, kalau hari kerja pasti Iway bisa mengintip, atau malah menerima limpahan perawan cantik yang lari minta perlindungan di gedung kantormu.

Bangsari mengatakan...

itulah efek dari gempuran televisi yang terus menerus. orang jadi bermimpi, tapi ndak mau bekerja keras.

mungkin. ada baiknya boikot televisi.

btw, aku kangen mesjid kuwi. karpete empuk banget. hehehe